Follow by Email

Sabtu, 03 Maret 2012

BUAYA (CROCODILE)

Buaya bukan lagi ‘fossil hidup’

Selama ini buaya disebut sebut sebagai ‘fosil hidup’ karena sedikitnya perubahan fisik buaya dari jaman prasejarah. Tapi ternyata analisa yang dilakukan di New York menunjukkan buaya yang hidup di jaman sekarang ini berkembang dari kelompok yang sangat berbeda("KLIK HERE"). Terungkapnya perjalanan evolusi buaya itu diketahui lewat penemuan nenek moyang purba buaya, semisal spesimen mirip kucing, buaya raksasa dan spesies vegetarian berhidung pesek. Anatomi tubuh pendek dan lebar, moncong bulat, serta ekor pendek yang diperlihatkan beberapa buaya itu menunjukkan adanya serangkaian adaptasi.


Adaptasi anatomi dari kelompok reptil yang amat beragam dan disebut notosuchian crocodyliform itu dipaparkan dengan detail dalam Memoir of the Society of Vertebrate Paleontology, Desember 2010. Laporan yang disunting oleh David W. Krause dan Nathan J. Kley dari Stony Brook University itu dengan tegas menumbangkan gagasan yang menyatakan bahwa buaya adalah fosil hidup, tidak berubah sejak zaman prasejarah.
Mereka menduga struktur tubuh dasar dari buaya, alligator, dan gharial berkembang dari sebuah kelompok reptil prasejarah yang amat beragam dengan bentuk tubuh berbeda("KLIK HERE"). Dugaan itu berawal dari penemuan fosil buaya aneh Simosuchus clarki 10 tahun lalu di Madagaskar. Sejak saat itu, para ahli paleontologi berlomba menemukan fosil utuh binatang tersebut.
10 tahun kemudian, kerangka buaya yang hampir lengkap pun ditemukan. Analisis fosil tersebut memicu kembali diskusi tentang evolusi buaya modern. “Tengkorak dan rahang bawahnya nyaris terawetkan seluruhnya,” kata Nathan J. Kley. “Tulang itu dikombinasikan dengan CT-scan resolusi tinggi memungkinkan kami menggambarkan struktur kerangka kepala, baik dalam maupun luarnya, secara detail luar biasa, termasuk jalur saraf dan pembuluh darah yang amat kecil.”
Simosuchus clarki, yang diperkirakan hidup 66 juta tahun lampau di pengujung zaman dinosaurus, amat berbeda dibandingkan dengan spesies buaya lain. Panjangnya hanya 60 sentimeter, moncong pendek dan membulat, serta ekor pendek dan tubuhnya mirip tank tertutup lapisan keras("KLIK HERE").
Dengan rahangnya yang pendek dan lemah, ditambah gigi berbentuk daun, para ilmuwan menduga reptil tersebut tak akan mampu menarik mangsa dari tepi air, seperti apa yang dilakukan buaya modern. Berdasarkan analisis tersebut, Simosuchus clarki diperkirakan adalah buaya purba yang hidup di darat, dan bukannya memangsa binatang lain seperti kerabat modernnya. Spesies itu justru mengunyah tanaman di habitat padang rumput yang kering.
“Simosuchus clarki hidup di darat, berbadan lebar, dan posturnya seperti sedang berjongkok, menunjukkan binatang itu tak dapat bergerak lincah atau cepat,” kata Joseph Sertich dari Department of Anatomical Sciences di Stony Brook, yang terlibat dalam studi tersebut.
Meski gagasan buaya vegetarian yang lemah ini terdengar ganjil, laporan para ilmuwan Stony Brook membuat orang dengan mudah membayangkan bagaimana buaya itu berjalan pelan menyusuri habitat padang rumput keringnya, beristirahat untuk mengunyah tanaman dan berjongkok rendah untuk bersembunyi dari predator seperti majungasaurus, dinosaurus pemakan daging("KLIK HERE"). Mereka juga menemukan bukti yang menunjukkan asal usul evolusioner Simosuchus clarki. “Analisis hubungan evolusioner menunjukkan kerabat terdekat Simosuchus hidup jauh lebih awal di Mesir,” kata Sertich.
Tanpa mempedulikan nenek moyangnya sekalipun, penemuan Simosuchus clarki telah menetapkan standar baru tentang apa yang membentuk seekor buaya. “Singkatnya, Simosuchus adalah anggota grup crocodyliform paling aneh yang pernah ditemukan,” kata Dr Christopher Brochu, pakar fosil buaya dari University of Iowa.
Keanehan spesies buaya itu, kata Brochu, ada kemungkinan dipengaruhi oleh relung khusus yang ditempati Simosuchus clarki dalam ekosistem. “Banyak peran ekologi yang diisi oleh dinosaurus di utara, tapi diisi oleh buaya di belahan selatan,” katanya. “Hal itu menyebabkan munculnya buaya yang sangat aneh.”
Brochu juga memperlihatkan perbedaan yang amat kontras antara Simosuchus clarki dan buaya modern(KLIK HERE). “Gharial India, misalnya, mempunyai moncong langsing dan panjang dengan gigi seperti jarum, serta sendi rahang terletak sejauh mungkin ke belakang. Simosuchus clarki memiliki struktur sebaliknya. Moncongnya begitu pendek sehingga tengkoraknya hampir seperti kubus. Giginya sama sekali tak mirip jarum dan sambungan rahangnya terletak di bawah telinga, jauh sekali dari ciri gharial.”
Selain Simosuchus clarki, fosil buaya lain yang membuktikan buaya bukan fosil hidup adalah kerangka binatang mirip buaya kecil dengan gigi menyerupai mamalia, yang ditemukan sejumlah ahli paleontologi di Tanzania. Gigi kucing yang dimiliki buaya tersebut jauh berbeda dari gigi kerucut buaya modern, yang digunakan untuk merobek dan memotong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar